https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

04 September 2008

Seno Gumira Ajidarma : "Mediocre" tapi Juara

SENO GUMIRA AJIDARMA adalah sebuah kontradiksi, mungkin juga sebuah ironi, tapi akhirnya adalah sebuah surprise. Coba saja kita periksa figur sosok yang satu ini. Waktu sekolah ia mengaku suka memilih duduk di barisan tengah. Tidak di belakang, sebab barisan belakang milik murid-murid yang “pintar”, sedang barisan depan adalah jatahnya murid-murid “bodoh”. Kata Seno, “aku menerima diriku sebagai mediocre saja”, maka ia memilih duduk di barisan tengah.

Kini dengan setumpuk kitab hasil karyanya, plus seabrek penghargaan sastra bergengsi yang sudah disabetnya, tidak mungkinlah untuk menganggapnya hanya penulis mediocre, meskipun ia sendiri mengaku “tidak pernah punya obsesi menjadi nomor satu”. Lucunya juga ia malah pernah mengeluarkan pernyataan bahwa ia tak pernah bercita-cita menjadi penulis—meskipun nyatanya kini hidup dari menulis. Ia mengaku “terpaksa” menulis, karena suka membaca. Atau dalam kata-katanya sendiri, “Aku mewajibkan diriku menulis karena aku suka membaca”.

Dulu pun ia mengaku hanya kepingin jadi seniman “biasa” saja. Targetnya menjadi “seniman biasa” itu menurutnya sudah dicapainya pada saat umurnya baru 17. Saat itu puisinya sudah berhasil menembus majalah sastra Horison, yang ketika itu masih disembah-sembah. Pada saat yang sama puisinya juga muncul di Aktuil, majalah pop yang secara “ideologis” bertabrakan dengan Horison. Ia pun gulang-gulung dengan Teater Alam yang dikomandani Aswar AN.

Tak cukup sampai di situ. Saat umurnya 19 ia menjadi wartawan, lantas kawin, lantas punya anak—yang kini sudah fotografer, lulusan IKJ, almamater tempatnya sekarang mengajar. Gebrakan serba kilat itu dilakoninya lengkap ketika umurnya baru 20—periode ketika sebagian anak-anak Indonesia masih pada repot dengan tawuran di jalan atau khusuk menyetubuhi kitab-kitab stensilan. Maka tak salah kalau ia berani bilang, bahwa “upacara dalam hidup sudah kutuntaskan pada usia 20 tahun. Aku tak punya target lagi setelah itu”.

Kini ia mengisi hari-harinya dengan mengajar, membaca, menulis—terus menempa diri menjadi “tukang”. Menjadi tukang itu tidak mudah, katanya meyakinkan—berbeda dengan menjadi robot. Karena untuk menjadi tukang, teknik saja tak cukup, ujarnya. Ada pergulatan intens di sana. Tukang kayu, ia mencontohkan, harus kenal kayu secara personal, seperti petani juga wajib mengenal cuaca, tanah,air, dan benih tanamannya secara personal.

Maka seorang penulis yang baik wajib hukumnya mengenal secara personal tabiat kata-kata yang digaulinya setiap hari itu. Pengenalan itu akan membawanya ke bentuk hubungan yang lebih serius, lebih intens. Dari intensitas itulah kelak boleh diharapkan lahir karya-karya unggulan yang adalah hasil persetubuhan suntuk, buah dari perselingkuhan segitiga yang rumit, antara penulis di satu pihak, pengalamannya di pihak lain, dan kata-kata yang sebagai ranjang dan wadag, menerima pasrah kisah kasih kasmaran itu.

(Sebagian bahan artikel ini dipinjam dari blog Sukab.Wordpress.com)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...