https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

22 September 2008

Zatako, Titanic, Kegilaan

DI TAHUN 1980-an dulu saya kerap menemukan puisinya dimuat secara rutin sebuah koran ibukota. Setahu saya ia lebih seorang wartawan ketimbang penyair. Tapi sebagai wartawan ataupun penyair sepertinya namanya memang “kurang bergema”. Saya pun tak begitu ingat adakah ia sempat punya kumpulan puisi. Baiklah. Ia adalah Zainudin Tamir Koto, dan sering menyingkat namanya itu dengan akronim Zatako.

Puisi-puisi Zatako tidak istimewa, malah banyak yang musti saya bilang jelek. Saya menduga sajak-sajaknya (yang tidak istimewa) itu bisa muncul di koran ibukota lebih karena alasan pertemanan—begitulah saya meyakininya—yang ada antara dia dengan redaktur sastra koran termaksud.

Puisi-puisi Zatako pendek-pendek, berisi umumnya kesan-kesan yang didapatnya dalam pengembaraannya sewaktu bertugas selaku wartawan, saya kira. Kadang, ada juga saya temukan satu dua puisinya yang bagus. Maka saya menduga mungkin puisi-puisinya menjadi kurang bertenaga karena ia—selaku wartawan--tak punya cukup waktu untuk mengolah lebih masak bahan-bahan puisinya tersebut.

Tapi hal yang saat ini paling mengesan pada saya adalah bahwa ia sepertinya tidak ambil mumat dengan apa pendapat orang tentang sajaknya. Ia terus saja menulis, dan memang ia tergolong penyair “subur”, seraya dengan rajin mengirimkannya ke koran Jakarta itu. Adakah yang membacanya? Pastilah ada, minimal saya terus mengikuti puisinya setiap kali muncul.

Sikap “tidak ambil peduli” itu mendadak jadi terasa penting buat saya. Sikap keras kepala itu bisa saja lahir dari semacam rasa cinta, bukan? Zatako, dalam keserba-sempitan waktunya, mungkin begitu mencintai puisi, maka ia terus menulis, seraya belajar tak hirau dengan komentar miring orang lain. Dengan caranya sendiri ia merayakan komitmennya pada puisi.

Saya teringat pada sebuah adegan dalam film Titanic. Sewaktu kapal pesiar mewah itu pelan tapi pasti karam, dan para penumpamgnya dilanda panik berlarian ke sana ke mari, sejumlah pemusik yang biasa bertugas menghibur di kapal keren itu malah terlihat terus asyik berdendang. Dan ketika salah seorang dari mereka mengingatkan konco-konconya bahwa tak ada (lagi) yang menonton aksi mereka, sang kawan dengan kalem bilang “ah, biasa juga mereka tak menyimak kita bermain, kenapa sekarang kau meributkannya--terus saja mainkan musikmu”. Dan mereka melanjutkan aksi mereka.

Sudah gilakah para pemusik itu? Mungkin ya, tapi soalnya bukan itu barangkali. Soalnya adalah, jika dunia kita hari ini ternyata semakin mirip dengan Titanic yang dengan pasti tengah berangkat karam di mana harapan untuk selamat serasa mustahil—karena jumlah sekoci penyelamat sungguh tidak memadai, tetapi terutama karena ketiadaan kepemimpinan dengan wibawa yang cukup—tidakkah apa yang diperbuat para pemusik itu bukan malahan sebuah pilihan sikap yang “heroik”?

Ah, dari para pemusik “gila” itu (juga dari penyair Zatako) saya merasa telah mendapatkan sebuah pelajaran penting dan berharga.

2 comments:

Binhad said...

Bung Ook, saya sempat melihat Zatako di sebuah diskusi sastra di Medan tahun lalu. Dia masih sehat dan bugar. Di tengah diskusi, dia tiba-tiba saja keluar dari ruangan diskusi sambil menggerutu kecewa(tak perlu saya katakan di sini kata gerutuannya). Itu gaya medan katanya.

Ook Nugroho said...

Baiklah, terima kasih untuk informnya, ini barangkali kelemahan saya krn kurang gaul, tapi "tafsir" saya rasanya tak usah jadi batal--karena nama Zatako bisa saja diganti dgn nama lain, bukan? Binhad misalnya. Tapi ini tidak usah lantas diartikan saya menyamakan mutu puisi anda dgn puisi Zatako.
Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...