https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

16 May 2008

Menyoal yang "Panjang", yang "Kuat"

YANG penting bukan “panjang” atau “pendek” ukuran—tapi seberapa “kuat” daya cengkeramnya. Sebaiknya saya buru-buru menambahkan bahwa saya tak sedang bermaksud bicara urusan “obat kuat” atau semacamnya. Mohon diingat, bahwa urusan “panjang” dan “pendek” serta kekuatan “daya cengkeram” adalah hal-hal yang juga sangat relevan dan signifikan dalam pembicaraan puisi.

Maksudnya jelas dan sederhana. Bagus tidaknya sebuah puisi tidak tergantung pada “panjang” atau “pendek” puisi itu.. Seperti juga bermutu tidaknya omongan kita bukan tergantung pada makin panjangnya tutur-kata kita. Yang penting adalah seberapa “berisi” atau “berguna” omongannya. Dengan kata lain, seberapa kuat pembicaraan itu mampu “mencekeram” pendengarnya.

Puisi pun setali tiga kepeng. Sajak-sajak “pendek” tidak bisa begitu saja dianggap kalah perkasa dari sajak “panjang”. Khazanah sastra penuh dengan contoh yang bisa dicomot untuk membuktikan hal itu. Bagi seorang penyair pilihannya juga jelas. Jika dengan empat baris bisa dirangkum 10.000 hal, untuk apa berlelah-lelah mencipta berpuluh atau beratus larik yang ternyata tak cukup berbicara?

Tapi memang menulis sajak panjang, atau sajak yang “sedikit agak panjang”, menjadi tantangan tersendiri bagi seorang penyair. Dan tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga agar “ereksi-puitik” bisa bertahan cukup lama, tidak keburu lunglai saat sedang seru-serunya terjadi penetrasi, supaya “permainan” yang disebut proses penciptaan itu bisa diselesaikan dengan tuntas, dan masing-masing pihak pun merasa “terpuaskan”.

Terus terang saya sering “iri” kalau melihat puisi dari sejumlah penyair yang selain ukurannya “panjang” juga kelihatan “kuat”, dengan urat-urat kata yang bertonjolan samar pada sekujur barisnya. Apa ya gerangan resep mereka sehingga mereka bisa memiliki kebugaran puitik seperti itu? Adakah mereka secara rutin menyantap “suplemen” tertentu, mungkin reramuan tradisional apa begitu. Atau ada trik-trik latihan khusus—selain rajin “ber-aerobik” puisi dan khusuk mengangkat-angkat barbel kata setiap harinya?

1 comment:

Dedy Tri Riyadi said...

PR saya juga begitu, Pakde.
Bagaimana menulis puisi yang panjang, mencengkeram, dan tetap bisa dinikmati pembaca. Walaupun kata Mas Pinang; jangan pedulikan panjang-pendek puisi itu ketika menulis.

Sampai saat ini saya merasa belum bisa menulis yang panjang-panjang dan tetap kuat itu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...